November 3, 2009

Untung Masih Sayang

Dia: Ih kamu tuh kasar banget sih

Saya: Ini bentuk kasih sayang aku tau

Dia: Sayang koq kasar, kamu tuh marsosi deh

Saya: Marsosi??

Dia: Iya, yang kasar-kasar gitu lho

Saya:

Dia: Ya kan, bener marsosi??

Saya: Masochist maksudnya??

Dia: Nah iya! Masochist…

Saya:

October 30, 2009

Cuma Cerita

Teman: Gw tuh capek dengerin dia ngeluuuuhhh terus

Saya: Sabar…

Teman: Gimana gw bisa sabar, dikit-dikit dia ngeluh, ini dikeluhin, itu dikeluhin, gw begini salah, gw begitu salah

Saya: Sabar, mungkin dia cuma pengen cerita aja

Teman: Kalo cuma cerita sih gw dengerin, tapi ini isinya ngeluuuh doank

Saya: Lah elo juga bukannya lagi ngeluh tentang dia ke gw sekarang??

Teman: Nggak, gw cuma cerita

Saya: …

October 22, 2009

Bapak

*Kalo makan jangan lupa bayar, pokoknya harus jujur sekecil apa pun*

Itu pesan bapak buat saya yang sampai hari ini berusaha saya pegang dan jalankan. Tepat sebelum saya berangkat ke Bandung untuk kuliah, kalimat itulah yang saya dengar. Saya cuma cengar-cengir saat diberi petuah itu, saya pikir bapak cuma bercanda, ternyata hari ini, detik ini, saya merasa bahwa kalimat itu susah untuk dijalankan, terbentur dengan realitas yang ada di hadapan saya.

Sejak kecil bapak jarang menguliahi saya dengan petuah-petuahnya. Saya hanya bertemu bapak saat bapak pulang kantor dan pagi-pagi sebelum saya berangkat ke sekolah. Tidak ada obrolan istimewa antara saya dan bapak. Bapak yang saya kenal adalah yang setiap minggu mengajak saya ke toko buku, mengangguk dan kadang menggeleng saat saya menunjukkan buku yang ingin saya beli. Semakin dewasa peran bapak berubah di mata saya. Yang semula menjadi tempat persetujuan untuk membeli buku sekarang menjadi tempat persetujuan untuk banyak hal “Pak, aku main ya?”, “Pak, aku pinjam mobil ya?”, sampai “Pak, ini pacar aku, gimana?”. Bermacam reaksi yang diberikan bapak, bukan hanya mengangguk dan menggeleng saja, kadang ditambahi alasan-alasan kenapa boleh dan kenapa tidak. Kadang saya tertawa, tersenyum, marah, menangis untuk setiap reaksi yang bapak berikan. Tapi bapak tetap bapak saya.

Bapak tidak pernah ribut untuk urusan kuliah dan pendidikan, bapak selalu bilang “bapak tau kamu bisa, kamu kan anak pintar”. Kata-kata itu yang selalu membuat saya merasa aman saat saya kuliah, meskipun saya tidak berada di tengah-tengah keluarga saya. Saya merasa aman, karena saya tau bapak selalu bangga dengan saya. Pada hari pengumuman saya diterima di universitas negeri, bapak dengan bangganya memfotokopi koran pengumuman itu dan menunjukkannya pada semua orang. Sepulang dari kantor bapak membelikan barang-barang yang akan saya butuhkan selama saya hidup di kos-kosan di Bandung. Saya tahu bapak membanggakan saya.

Selama tahun pertama saya kuliah, hampir setiap hari bapak menelpon saya, untuk menanyakan apakah ada yang saya perlukan, kadang hanya bertanya apakah saya sudah makan, karena bapak sedang makan enak sekarang. Bapak yang lucu. Telepon itu pasti berasal dari nomor yang sama, nomor kantor bapak. Telepon itu menjadi rutinitas yang mengasyikkan. Saking telah menjadi rutinitas, saya sampai tidak sadar, bapak tidak pernah menelpon saya dari kantor lagi. Ternyata bapak pensiun. Ibu saya menangis saat bapak pulang membawa barang-barang dari kantornya. Ibu saya menangis bukan karena tidak terima bapak pensiun, tapi ibu sedih karena tahu dan mengerti bapak masih ingin bekerja. Hal ini yang baru saya ketahui 10 hari yang lalu.

Saya tidak terganggu dengan pensiunnya bapak, karena telepon dari bapak masih tetap ada setiap hari untuk saya, meskipun saat ini dari telepon rumah. Sampai akhirnya telepon itu benar-benar berhenti. Terlambat saya sadar akan hal itu. Malam itu saat saya dan teman-teman sedang berputar-putar di daerah Dago, ada telepon yang nyaris membuat saya jatuh pingsan di sebuah factory outlet, “bapak sakit, stroke”. Suara ibu yang dingin menyimpan kesedihannya menyadarkan saya. Saya harus pulang, harus kembali ke Jakarta saat ini juga. Ibu yang cerdik, yang mengenal anaknya dengan baik, tahu betul kapan anaknya panik. Ibu menelepon saya jam 9 malam. Tidak mungkin saya pulang ke Jakarta malam itu, tidak ada lagi jadwal kereta ke Jakarta. Akhirnya malam itu saya hanya bisa menangis dan berdoa untuk Bapak, sampai akhirnya adzan subuh berkumandang.

Saya pulang, pulang untuk menemui bapak yang terbaring di rumah sakit. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan tentang kondisi saat itu. Semuanya bagaikan potongan film yang diputar fast forward. Dengan segala perjuangan, bapak bisa keluar dari rumah sakit. Sakitnya bapak betul-betul merubah pola hidup keluarga saya. Ibu menjadi pendiam, pemarah dan semakin sensitif. Nenek saya semakin menunjukkan urat-urat tuanya melihat anak dan menantunya berjuang menghadapi cobaan. Saya yang tadinya menganggap bahwa hal buruk tidak akan mampir di hidup saya harus berjuang menghadapi kenyataan, “geconfronteerd met de realiteit”.

Saya berjuang menyelesaikan kuliah saya sambil bekerja di sebuah perusahaan asuransi. Sales bukan bidang saya, mati-matian saya mempertahankan pekerjaan saya di perusahaan tersebut. Saya harus bekerja untuk menyelesaikan kuliah saya. Saya bekerja bukan karena keluarga saya tidak mampu lagi membiayai saya, tapi saya yang tidak mau dibiayai. Berat bagi ibu saya untuk menjadi seorang ayah sekaligus, dan saya tidak mau menanyakan ke ibu hal-hal yang dulu biasanya saya tanyakan ke bapak. “Pak beli buku”, “pak bayaran semester ya”, “pak, minta uang foto kopian”, “pak komputer rusak nih, harus servis”. Dan akhirnya saya lulus kuliah meskipun tertatih-tatih. Saya insyinyur! Bapak pasti bangga. Sayang bapak tidak hadir di wisuda saya, hanya namanya saja yang menggaung di aula tempat saya wisuda. Nama bapak menggaung mengikuti nama saya.

Saya keluar dari perusahaan asuransi, bukan bidang saya di situ meskipun gajinya menggiurkan. Akhirnya saya bekerja di kampus bersama dosen saya. Sebagai insinyur geoteknik saya berkutat dengan tanah. Tanah yang akhirnya menghasilkan uang buat saya hidup. Tanah yang kadang menawarkan uang “bersih” dan juga uang “kotor” buat saya.

pokoknya harus jujur sekecil apa pun”.

Iya pak, saya ingat pesan bapak. Akhirnya saya pindah ke perusahaan BUMN, persis seperti bapak dulu memulai karirnya. Saya tersenyum menyadari, ternyata bapak memang idola saya. Setelah bekerja hampir setahun di perusahaan BUMN, saya menyerah. Ternyata budaya kerjanya tidak bisa saya terima. Saya akhirnya pindah ke sebuah non profit organization.

Kekaguman saya terhadap bapak semakin menjadi. Kagum atas kekuatan bapak mempertahankan idealismenya selama bekerja di perusahaan BUMN. Maaf pak, saya menyerah. Tapi saya tidak kalah. Justru saya menang. Menang karena masih mempertahankan nasihat bapak. Pak, saya sadar hidup ini tidak mudah. Hidup ini tidak selalu hitam dan putih. Hidup ini kadang abu-abu dan kita bisa terkecoh. Tapi saya menang pak hari ini, dan saya harus menang lagi besok.

Bapak pun akhirnya menang. Menang atas penyakitnya. Enam tahun beliau lawan penyakitnya dengan tersenyum. Bapak menang sekarang, bapak bisa berisitirahat dengan tenang. Selamat jalan bapak. Saya akan selalu membuat bapak menang.

October 22, 2009

Konsistensi

Teman  : Ok, ini terakhir kalinya gw coba buat putus sama dia. Dia emang yang paling cocok buat gw

Saya       : Great… *menarik napas lega setelah 3 kali mendengar mereka hampir putus*

Teman  : Eh update donk blog lo

Saya       : Iya ya, dah lama gw gak update blog

Teman  : Konsisten donk!

Saya       : ….

October 17, 2008

SEBENARNYA

Satu kata yang pernah terucap

Kau tanggalkan cinta

Tak tersirat di benak ku

Kau redupkan suasana cinta

Mungkin suatu keinginan dari mu

Untuk lepas dari hidupku oh cinta ku

Ku masih ingin dalam peluk mu

Semua itu kau pun tahu

Tak terlintas di benak ku

Kau berpaling tinggal kan diri ku

Mungkin niat melupakan diri ku

Dan sirnakan keinginan mu bersama ku

Kalau memang aku salah berikan maaf untuk ku

Takkan ku ulang lagi hanya itu yang ku minta

Tuk yang terakhir dari mu walau tiada cinta lagi

(Bila Salah – Rossa)

orang itu : kalau saya gak kenal dia, mungkin saya masih sama kamu sekarang..

hati saya : selama 3 tahun saya menerima sebuah alasan pembenaran tapi ternyata hanya ini alasan yang sebenarnya

saya : ooo..

October 6, 2008

BANDUNG – PURWAKARTA (EKONOMI) Rp 16000,- , PURWAKARTA – BANDUNG (AC) Rp 15000,- ???

Dulu sebelum ada tol Cipularang, rute saya menuju Bandung dari Jakarta adalah Jakarta – tol dalam kota – Cikampek – Purwakarta – Padalarang – Bandung. Tapi semenjak tol Cipularang mulai beroperasi maka praktis rute saya menjadi Jakarta – tol dalam kota – tol Cipularang –Bandung. Eits, jangan salah sangka, saya bukan pengendara truk, bis ataupun travel Jakarta – Bandung. Saya memang sering pulang pergi Jakarta – Bandung karena pekerjaan saya di Bandung sementara kedua orang tua tinggal di Jakarta.

Setelah beroperasinya tol Cipularang, saya tidak pernah melewati daerah Purwakarta lagi. Padahal saya masih ingat liak-liuk jalan Purwakarta, dan apa-apa saja yang menghiasi daerah di pinggir jalan tersebut. Ada tukang-tukang mainan anak-anak tradisional, tukang peyeum, oleh-oleh khas Purwakarta seperti simping (yang bentuknya lingkaran pipih) beraneka rasa, colenak, dll. Ibu saya selalu menyempatkan diri untuk mampir di Purwakarta membeli simping kalau beliau menjenguk saya ke Bandung. Pinggiran jalan Purwakarta menjadi tempat yang ramai. Kegiatan perekonomian masyarakat Purwakarta banyak yang berpusat di pinggiran jalan ini. Tapi itu dulu, sekarang saya tidak tahu lagi bagaimana kondisinya, yang jelas omzet para pedagang itu pasti berkurang karena berkurang juga kendaraan yang melewati jalan Purwakarta baik yang menuju Bandung ataupun Jakarta.

Beberapa hari yang lalu saya harus berangkat menuju Waduk Jatiluhur, yang merupakan landmark Purwakarta, untuk mengumpulkan data-data kualitas air. Entah kenapa tiba-tiba saya teringat masa dimana saya sering melewati jalan Purwakarta. Karena itu saya langsung nekat memutuskan untuk pergi menggunakan bis umum. Salah satu kesalahan saya yang cukup fatal adalah saya sebelumnya belum pernah menggunakan bis umum dari Bandung menuju Purwakarta maupun sebaliknya. Tapi saya tetap nekat ingin menggunakan bis umum –hanya Tuhan yang tahu kenapa–.

Pagi itu saya bangun sekitar pukul 06.00, jauh dari harapan saya karena harusnya jam 06.00 saya sudah berada di terminal bis. Tapi apa daya, saya tetap harus berangkat juga ke Purwakarta dan tetap nekat ingin naik bis. Akhirnya pukul 07.00 saya berangkat dari rumah dengan menumpang angkot Panghedar-Dipatiukur sampai ke pangkalan bis Damri. Turun dari angkot –tidak lupa membayar tentunya- saya langsung berlari mengejar bis Damri tujuan Leuwih Panjang yang sudah berangkat. Saya harus menunggu 1 jam jika saya ingin naik bis Damri yang berikutnya, dan tidak mungkin karena saya sudah terlambat. Akhirnya saya berhasil mengejar bis Damri tersebut dan duduk manis di dalamnya.

Tarif bis ini tergolong murah, Rp 1600,- sampai ke terminal yang jaraknya lumayan jauh dan bis ini full music. Mulai dari lagu balada, lagu rock dan tentunya dangdut, lagu lama maupun lagu baru, siap dinyanyikan oleh para pengamen. Saya yang sudah mengantuk akhirnya mengurungkan niat untuk tidur, mana mungkin bisa tidur di sementara pengamen di sebelah saya sibuk menabuh gendang kecilnya ditambah lagi dengan teriakan penjaja barang-barang dagangan serta senggolan pak kondektur yang sibuk memungut bayaran dari penumpang.

Pukul 09.30 saya akhirnya sampai di terminal Leuwih Panjang. Saya masuk ke dalam terminal untuk mencari bis yang lewat Purwakarta, karena ternyata tidak ada bis khusus menuju ke Purwakarta. Saya sibuk menjulur-julurkan leher –maklum saya tidak tinggi- mencari-cari bis AC. Tapi ternyata tidak ada bis AC yang lewat Purwakarta, semuanya bis ekonomi. Ok, tidak ada lagi yang bisa saya lakukan, saya sudah sangat terlambat, akhirnya saya naik bis ekonomi tujuan Bekasi.

Untungnya bis yang saya naiki tidak menunggu waktu lama untuk berangkat. Di dalam bis ini pun keadaannya tidak jauh berbeda dengan bis Damri yang saya naiki tadi. Saya langsung disambut dengan nyayian dan teriakan-teriakan pedagang. Bahkan kali ini jenis barang dagangan yang dijajakan semakin beragam mulai dari permen jahe sampai ke sandal! Harapan saya untuk bisa tidur langsung sirna. Saya tidak menyalahkan mereka, mereka hanya mencari penghidupan, sama seperti saya dan orang-orang lainnya. Di tengah jalan, kondektur meminta bayaran. Semua penumpang di bis ini memang tidak ada yang membeli tiket di loket, malah saya cukup ragu apa memang ada loketnya. Dan kenapa baru setelah berada di jalan tol kondektur meminta bayaran, karena ternyata bis ini menaikkan penumpang di luar terminal dan di pintu tol. Saya yang tidak tahu berapa tarifnya dan malu bertanya, langsung menyodorkan uang Rp 50000,- dan kondektur memberikan uang kembalian beserta tiket bisnya, tarifnya Rp 16000,-. Ok, ini cukup murah pikir saya.

Saat itu di pangkuan saya silih berganti terdapat barang dagangan yang dijajakan. Para pedagang menyodorkan dengan paksa barang dagangan mereka ke pangkuan saya dan penumpang lainnya. Permen jahe, wingko babat (saya di Jawa Barat kan?? Bukan Jawa Tengah), kue pukis, buku tuntunan sholat, resep makanan, kamus inggris-arab-indonesia, dompet, sandal sempat mampir ke tangan saya. Berbagai barang dagangan ini dijual dengan harga dari yang termurah misalnya permen jahe Rp 1000,- sampai yang termahal Rp 10000,- yaitu sandal dan dompet. Nyanyian dan tabuhan gendang ditambah petikan gitar juga tetap mengalun.

Akhirnya bis yang saya tumpangi pun keluar pintu tol Jatiluhur. Saya pun turun dan…bingung. Saya tidak tahu mana angkot yang menuju Waduk Jatiluhur. Berbekal pesan orang tua “malu bertanya sesat di jalan”, maka saya bertanya pada sekumpulan orang yang berdiri di depan rumah makan Ciganea –yang cabangnya di ITB kerap saya sambangi-. Akhirnya dengan menumpang (bukan berarti tidak bayar) angkot merah diantarkanlah saya hingga ke Waduk Jatiluhur. Kemudian cepat-cepat saya selesaikan urusan saya di sana, dan saya kembali pulang ke Bandung. Tidak ada yang aneh dengan perjalanan pulang saya ke Bandung, hanya saja lebih sepi karena tidak ada pengamen di dalam bis lagi, karena saya akhirnya naik bus ac Bekasi-Bandung via Purwakarta yang entah kenapa ada sementara di terminal Leuwih Panjang malah tidak terlihat sama sekali. Hanya satu yang masih mengganjal pikiran saya, kenapa bis ac ini yang notabene lebih nyaman dan eksklusif tarifnya hanya Rp 15.000.-??

Harga berbanding lurus dengan kualitas dan kenyamanan*

*Kecuali bus jurusan Bandung-Bekasi via Purwakarta

September 17, 2008

Crayon

Teman : hari ini sepi banget ya…

Saya : yang sepi “hati” lo bukan “hari ini”

Teman : iya…

Saya : hati lo sepi gak ada warna-warninya. Makanya jual crayon lo.

Teman : koq?

Saya : iya, jual crayon lo ke orang lain, biar ada orang yang bisa ngewarnain hati lo.

Teman : hehe, mau jual ke siapa?

Saya : gw gak tau siapa aja yang pernah mampir ke toko lo. Tapi pesan gw, kalau jual crayon jangan yang warna hitam ya…

June 4, 2008

Cincin Kawin

dia   : aku masih punya utang atau janji yang belum aku lunasin gak ke kamu?

saya : ada

dia   : apa?

saya : cincin kawin

dia   : …………… (diam, merasa bersalah karena dia tiba-tiba mau menikah dengan perempuan lain bulan agustus)

May 13, 2008

Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Saat ini sudah banyak gerakan yang mencanangkan anti terhadap kekerasan dalam rumah tangga. Bahkan pemerintah Indonesia pun juga telah mensahkan UU No. 23 Tahun 2004. Saya pun adalah orang yang anti terhadap tindakan kekerasan dalam rumah tangga.

Sebetulnya kekerasan tidak hanya bisa terjadi dalam sebuah ikatan perkawinan, tetapi bisa juga terjadi dalam sebuah hubungan antara dua manusia yang berbeda jenis kelaminnya yang belum disahkan menurut hukum agama dan perundang-undangan yang mengatur tentang perkawinan atau dengan kata mudahnya “pacaran”. Kekerasan dalam rumah tangga pun bisa dilakukan baik oleh laki-laki maupun oleh perempuan.

Saya adalah seorang yang pernah mengalami tindak kekerasan dari kekasih saya waktu itu –sekarang sudah mantan, syukurlah-. Hal pertama yang saya sadari sekarang adalah pada saat itu saya tidak menyadari bahwa sebenarnya saya sedang mengalami tindak kekerasan. Tapi lambat laun saya akhirnya menyadari saya lah sang korban. Tindak kekerasan yang saya alami mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Tindak kekerasan yang pertama saya alami adalah kekerasan mental atau psikologis, kemudian kekerasan verbal dan terakhir kekerasan secara fisik.

Kekerasan mental atau psikologis

Hal ini bisa terjadi saat pasangan mengalami kondisi emosi dan psikologis yang tidak seimbang. Contoh perilaku ini misalnya cemburu yang berlebihan, posesif, pengekangan terhadap hak-hak pasangan dan rasa egois yang sangat berlebihan. Biasanya pada tingkatan ini, kita belum menyadari bahwa hal ini termasuk tindakan kekerasan dan dapat berdampak bagi psikologis diri kita sendiri. Dampak yang mungkin terjadi dari tindakan kekerasan ini adalah rasa rendah diri, depresi, rasa takut atau paranoid, serta rasa bersalah terhadap pasangan maupun diri sendiri.

Beberapa contoh nyata tindakan yang saya alami di fase ini adalah:

  1. Pasangan mengekang saya untuk melakukan suatu tindakan yang masih dalam batas wajar sementara pasangan sendiri melakukan tindakan yang sama.

Saya selalu meminta izin pada pasangan jika saya ingin pergi bersama teman-teman saya (saya membatasi diri saya untuk tidak pergi berdua saja dengan teman lawan jenis), tapi selalu saja pasangan marah dengan alasan yang tidak logis, dan kemudian melarang saya untuk pergi padahal di saat saya meminta izin pasangan saya justru sedang berada di tempat kost teman perempuannya dan mereka berdua saja.

2. Pasangan memiliki rasa egois yang tinggi

Saya sulit mengutarakan pendapat saya jika pendapat saya bertentangan dengan dia. Jika saya nekat untuk menolak pendapatnya maka dia akan mengajak saya untuk terus berdebat dan kemudian diakhiri dengan sikap pasangan yang berubah menjadi bad mood.

Rasa egois pasangan pun ditunjukkan dengan keengganannya untuk mau mengerti apa yang sedang saya rasakan, dia tidak peduli apakah saya sedang meeting atau orang tua saya sedang sakit jika dia ingin bertemu dengan saya, maka saya harus bertemu dengannya. Jika saya tidak mau maka dia akan marah dan mengatakan saya tidak peduli dan tidak pernah punya waktu untuk dia.

Pada tingkatan ini saya lebih banyak melakukan denial atau penyangkalan bahwa saya sedang diperlakukan secara tidak baik. Saya sibuk untuk mencari pembenaran atas sikap dan kelakuan pasangan, sibuk membangun pikiran-pikiran positif dan sibuk mencari cara agar pasangan saya tidak marah.

Kekerasan Verbal

Saat emosi pasangan menjadi semakin tidak terkontrol dan tidak adanya perlawanan dari kita, maka kekerasan psikologis dapat meningkat menjadi kekerasan verbal atau perkataan. Kekerasan verbal juga kadang-kadang muncul di awal fase bersamaan dengan kekerasan psikologis. Melalui kekerasan verbal ini pasangan dapat melakukan tindakan penghinaan, bentakan ataupun perkataan lain yang menyakiti hati kita baik melalui pilihan kata yang digunakan maupun intonasi saat berbicara. Kekerasan verbal yang dilakukan oleh pasangan tidak melulu mengenai kita tapi bisa juga tentang orang-orang yang berkaitan dengan kita, bisa teman ataupun keluarga.

Saat berada pada tingkatan ini, emosi pasangan saya semakin menjadi, jika sudah marah tidak segan-segan dia membentak saya, tidak peduli dimanapun tempatnya dan kapan waktunya. Kata-kata yang digunakan untuk saya pun semakin semakin kasar, meskipun tidak menggunakan intonasi yang keras saat itu. Seperti misalnya “Kamu memang perempuan yang nggak ada otaknya”, “Kamu tuh nggak punya harga diri tau!”, “Saya nggak percaya dengan ibu kamu, mungkin aja kan dia bohong!”, “Kamu tuh goblok ya”, dan masih banyak lagi. Akibatnya dampak yang saya dapat dari kekerasan psikologis yang kemudian ditambah dengan kekerasan verbal menjadi semakin intens.

Saya akhirnya mulai sadar bahwa ada yang salah dalam hubungan saya dengan pasangan, tapi saya masih belum bisa melawan, kata orang-orang dekat saya, saya sudah dibutakan cinta. Ya, saya memang buta saat itu karena saya masih terus memaafkan dia, dan memberikan kesempatan lagi buat dia.

Kekerasan Fisik

Pada akhirnya kekerasan verbal meningkat menjadi kekerasan fisik. Pada tingkatan ini pasangan bisa melakukan kekerasan dengan menggunakan pukulan, tendangan, tamparan atau apa pun yang berhubungan dengan fisik, bahkan pemaksaan untuk melakukan hubungan seks. Akibatnya adalah selain dampak psikologis tentu saja rasa sakit pada fisik.

Saya akhirnya menyadari bahwa saya selama ini telah menjadi korban kekerasan saat saya mendapat perlakuan yang menyebabkan tubuh saya sakit. Saya didorong dengan keras oleh pasangan saya dari tempat tidur hingga saya jatuh di lantai, dan bukannya membantu saya untuk berdiri, malah dia menarik keras-keras tangan saya dan saya langsung dipaksa berdiri (ya dipaksa berdiri bukan dibantu berdiri). Saat itu saya berusaha melawan dengan menjauh dari dia.

Saya tidak mau menjadi korban lagi. Saya juga tidak mau orang-orang di sekitar saya juga menjadi korban nantinya. Maka saya sudahi hubungan saya dengan dia. Butuh waktu lama memang untuk lepas dari belenggu ini. Saya sendiri butuh waktu 1.5 tahun. Dan sampai saat ini (6 bulan setelah kejadian itu) saya masih belum bisa dikatakan sembuh total dari trauma yang saya alami. Tapi perlu saya ingatkan bahwa ketiga tipe kekerasan ini dapat muncul secara bersamaan ataupun tidak berurutan seperti yang saya jabarkan. Apa yang saya jabarkan adalah apa yang terjadi pada saya.

Hal yang membuat saya membutuhkan waktu 1.5 tahun untuk melepaskan diri dari hubungan “neraka” tersebut adalah permintaan-permintaan maaf dan rasa menyesal yang ditunjukkan oleh pasangan setelah memperlakukan saya secara tidak adil, dan ini yang harus kita waspadai.

Siklus

Pada awal hubungan kami, pasangan saya merupakan orang yang manis dan pengertian sekali. Saya jatuh cinta dengan sikapnya ini. Tapi kemudian dia berubah menjadi orang yang menakutkan buat saya. Namun setelah pasangan melakukan tindak kekerasan, dia akan meminta maaf dan menyatakan penyesalan sedalam-dalamnya diiringi janji untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi, tentu saja semua ini dilakukan dengan kata-kata yang manis. Tapi ternyata tindakan kekerasan berulang lagi dan dia kembali mengulangi penyesalannya, begitu seterusnya. Hal ini yang membuat saya sulit untuk melepaskan diri dari dia. Saat saya memutuskan untuk menyudahi semuanya, maka dia akan datang dengan wajah manis dan rayuan-rayuan yang akhirnya melunakkan hati saya lagi. Mungkin sulit dijelaskan bagi yang tidak pernah mengalami. Saya dulu selalu heran pada perempuan yang mengalami KDRT, kenapa mereka tidak segera melarikan diri atau melakukan perlawanan. Tapi pada saat saya berada di posisi mereka, saya merasakan sulitnya terjebak dalam sebuah siklus KDRT

Tapi akhirnya saat ini saya sudah lepas dari penderitaan yang pernah saya alami. Meskipun trauma dari apa yang saya alami masih membekas pada diri saya. Apa yang saya ceritakan hanya sebagian kecil dari apa yang saya alami. Jika anda mengalami tindakan kekerasan, jangan takut, bela lah hak-hak anda, tentunya dengan cara yang baik, sehingga tidak mempersulit keadaan yang anda alami. Segeralah bertindak sebelum tindak kekerasan yang anda alami semakin membahayakan hidup anda dan orang-orang di sekitar anda nantinya. Saya tahu sulit pasti rasanya untuk keluar dari belenggu siklus ini, tapi bukan hal yang tidak mungkin untuk dilakukan. Yang ingin saya tekankan di sini bahwa perempuan memang harus menghormati dan menghargai laki-laki dan laki-laki juga harus menyayangi perempuan. Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan untuk saling mengasihi bukan menyakiti.

Hidup ini terlalu indah untuk ditangisi, bahkan kenyataan terpahit pun adalah untuk dihadapi bukan untuk ditangisi.