perempuanluarbiasa

BANDUNG – PURWAKARTA (EKONOMI) Rp 16000,- , PURWAKARTA – BANDUNG (AC) Rp 15000,- ???

In hidup saya on October 6, 2008 at 11:54 am

Dulu sebelum ada tol Cipularang, rute saya menuju Bandung dari Jakarta adalah Jakarta – tol dalam kota – Cikampek – Purwakarta – Padalarang – Bandung. Tapi semenjak tol Cipularang mulai beroperasi maka praktis rute saya menjadi Jakarta – tol dalam kota – tol Cipularang –Bandung. Eits, jangan salah sangka, saya bukan pengendara truk, bis ataupun travel Jakarta – Bandung. Saya memang sering pulang pergi Jakarta – Bandung karena pekerjaan saya di Bandung sementara kedua orang tua tinggal di Jakarta.

Setelah beroperasinya tol Cipularang, saya tidak pernah melewati daerah Purwakarta lagi. Padahal saya masih ingat liak-liuk jalan Purwakarta, dan apa-apa saja yang menghiasi daerah di pinggir jalan tersebut. Ada tukang-tukang mainan anak-anak tradisional, tukang peyeum, oleh-oleh khas Purwakarta seperti simping (yang bentuknya lingkaran pipih) beraneka rasa, colenak, dll. Ibu saya selalu menyempatkan diri untuk mampir di Purwakarta membeli simping kalau beliau menjenguk saya ke Bandung. Pinggiran jalan Purwakarta menjadi tempat yang ramai. Kegiatan perekonomian masyarakat Purwakarta banyak yang berpusat di pinggiran jalan ini. Tapi itu dulu, sekarang saya tidak tahu lagi bagaimana kondisinya, yang jelas omzet para pedagang itu pasti berkurang karena berkurang juga kendaraan yang melewati jalan Purwakarta baik yang menuju Bandung ataupun Jakarta.

Beberapa hari yang lalu saya harus berangkat menuju Waduk Jatiluhur, yang merupakan landmark Purwakarta, untuk mengumpulkan data-data kualitas air. Entah kenapa tiba-tiba saya teringat masa dimana saya sering melewati jalan Purwakarta. Karena itu saya langsung nekat memutuskan untuk pergi menggunakan bis umum. Salah satu kesalahan saya yang cukup fatal adalah saya sebelumnya belum pernah menggunakan bis umum dari Bandung menuju Purwakarta maupun sebaliknya. Tapi saya tetap nekat ingin menggunakan bis umum –hanya Tuhan yang tahu kenapa–.

Pagi itu saya bangun sekitar pukul 06.00, jauh dari harapan saya karena harusnya jam 06.00 saya sudah berada di terminal bis. Tapi apa daya, saya tetap harus berangkat juga ke Purwakarta dan tetap nekat ingin naik bis. Akhirnya pukul 07.00 saya berangkat dari rumah dengan menumpang angkot Panghedar-Dipatiukur sampai ke pangkalan bis Damri. Turun dari angkot –tidak lupa membayar tentunya- saya langsung berlari mengejar bis Damri tujuan Leuwih Panjang yang sudah berangkat. Saya harus menunggu 1 jam jika saya ingin naik bis Damri yang berikutnya, dan tidak mungkin karena saya sudah terlambat. Akhirnya saya berhasil mengejar bis Damri tersebut dan duduk manis di dalamnya.

Tarif bis ini tergolong murah, Rp 1600,- sampai ke terminal yang jaraknya lumayan jauh dan bis ini full music. Mulai dari lagu balada, lagu rock dan tentunya dangdut, lagu lama maupun lagu baru, siap dinyanyikan oleh para pengamen. Saya yang sudah mengantuk akhirnya mengurungkan niat untuk tidur, mana mungkin bisa tidur di sementara pengamen di sebelah saya sibuk menabuh gendang kecilnya ditambah lagi dengan teriakan penjaja barang-barang dagangan serta senggolan pak kondektur yang sibuk memungut bayaran dari penumpang.

Pukul 09.30 saya akhirnya sampai di terminal Leuwih Panjang. Saya masuk ke dalam terminal untuk mencari bis yang lewat Purwakarta, karena ternyata tidak ada bis khusus menuju ke Purwakarta. Saya sibuk menjulur-julurkan leher –maklum saya tidak tinggi- mencari-cari bis AC. Tapi ternyata tidak ada bis AC yang lewat Purwakarta, semuanya bis ekonomi. Ok, tidak ada lagi yang bisa saya lakukan, saya sudah sangat terlambat, akhirnya saya naik bis ekonomi tujuan Bekasi.

Untungnya bis yang saya naiki tidak menunggu waktu lama untuk berangkat. Di dalam bis ini pun keadaannya tidak jauh berbeda dengan bis Damri yang saya naiki tadi. Saya langsung disambut dengan nyayian dan teriakan-teriakan pedagang. Bahkan kali ini jenis barang dagangan yang dijajakan semakin beragam mulai dari permen jahe sampai ke sandal! Harapan saya untuk bisa tidur langsung sirna. Saya tidak menyalahkan mereka, mereka hanya mencari penghidupan, sama seperti saya dan orang-orang lainnya. Di tengah jalan, kondektur meminta bayaran. Semua penumpang di bis ini memang tidak ada yang membeli tiket di loket, malah saya cukup ragu apa memang ada loketnya. Dan kenapa baru setelah berada di jalan tol kondektur meminta bayaran, karena ternyata bis ini menaikkan penumpang di luar terminal dan di pintu tol. Saya yang tidak tahu berapa tarifnya dan malu bertanya, langsung menyodorkan uang Rp 50000,- dan kondektur memberikan uang kembalian beserta tiket bisnya, tarifnya Rp 16000,-. Ok, ini cukup murah pikir saya.

Saat itu di pangkuan saya silih berganti terdapat barang dagangan yang dijajakan. Para pedagang menyodorkan dengan paksa barang dagangan mereka ke pangkuan saya dan penumpang lainnya. Permen jahe, wingko babat (saya di Jawa Barat kan?? Bukan Jawa Tengah), kue pukis, buku tuntunan sholat, resep makanan, kamus inggris-arab-indonesia, dompet, sandal sempat mampir ke tangan saya. Berbagai barang dagangan ini dijual dengan harga dari yang termurah misalnya permen jahe Rp 1000,- sampai yang termahal Rp 10000,- yaitu sandal dan dompet. Nyanyian dan tabuhan gendang ditambah petikan gitar juga tetap mengalun.

Akhirnya bis yang saya tumpangi pun keluar pintu tol Jatiluhur. Saya pun turun dan…bingung. Saya tidak tahu mana angkot yang menuju Waduk Jatiluhur. Berbekal pesan orang tua “malu bertanya sesat di jalan”, maka saya bertanya pada sekumpulan orang yang berdiri di depan rumah makan Ciganea –yang cabangnya di ITB kerap saya sambangi-. Akhirnya dengan menumpang (bukan berarti tidak bayar) angkot merah diantarkanlah saya hingga ke Waduk Jatiluhur. Kemudian cepat-cepat saya selesaikan urusan saya di sana, dan saya kembali pulang ke Bandung. Tidak ada yang aneh dengan perjalanan pulang saya ke Bandung, hanya saja lebih sepi karena tidak ada pengamen di dalam bis lagi, karena saya akhirnya naik bus ac Bekasi-Bandung via Purwakarta yang entah kenapa ada sementara di terminal Leuwih Panjang malah tidak terlihat sama sekali. Hanya satu yang masih mengganjal pikiran saya, kenapa bis ac ini yang notabene lebih nyaman dan eksklusif tarifnya hanya Rp 15.000.-??

Harga berbanding lurus dengan kualitas dan kenyamanan*

*Kecuali bus jurusan Bandung-Bekasi via Purwakarta

About these ads
  1. saya belum tau jalan purwakarta, kalau dari arah bandung ke terminal ciganea purwakarta, paling deket lewat mana? saya mau naik motor…

  2. nice posting..

    keep bloging..

    awalnya sih, mau cari route jakarta – bandung via purwakarta buat naek motor. ternyata ada cerita lain tentang purwakarta – bdo..

    nice..

  3. Lha mas’a dari Purwakarta ke Bandung’a turun dimana? Leuwih Panjang bukan? Atau di tempat lain?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: