perempuanluarbiasa

Luka

In Uncategorized on September 17, 2010 at 12:22 pm

Aku punya luka di kaki ku

Akibat terjatuh di tanah lapang

Aduuhh…

Rasanya sakit

Pulang aku ke rumah

Menangis tersedu

Ibu ku datang

Diobatinya luka ku

Sembuhlah aku

——

Aku punya luka di hati ku

Akibat menjatuhkan hati ku

Aduuuuuhhhh…

Rasanya sakit bukan main!

Pulang aku ke rumah

Menangis meratap

Kekasih ku datang

Dibukanya lagi luka ku

Matilah aku

Things I Cannot Do

In Uncategorized on May 20, 2010 at 2:51 pm

1. Talking

I may talk but not that much. I much think and re-think before I speak up. I cannot talk everything what I feel, because sometimes what I say will make the other things mess up.

2. Asking

I may not asking everything that I cannot give back. I will be called as selfish naif person if I am asking too much while I cannot give evrything of me.

3. Doubting

I must believe everything that you told me. I may not check with my own eyes everything happened to you. Just believe what you told me, like you trust everything that I told you.

4. Checking

I may not check your belongings. Those all stuffs become your personal authority. I may come in after you let me in, if not, I must stay away.

I will do everything that make you comfort. One thing that I am afraid of is “I cannot feel anything more to you”. It will be hapenned when I put “Feeling” as number 5. Then number 5 is not mambo for me.

Memori

In Uncategorized on May 5, 2010 at 6:40 pm

Aku terbangun pagi ini, dan tiba-tiba aku merasa kosong. Hatiku kosong. Dulu selalu ada kamu di hatiku. Menunggu ku bangun pagi dengan sabar. Sehingga pada saatnya aku bangun, kamu akan menyambutku dengan senyummu, kemudian kau akan berkata “ayo jalani hari ini bersamaku”. Senyuman itu, semangat itu, selalu mampu membuatku bertahan menjalani hidup hari perhari. Tapi hari ini kamu tidak ada di situ, hatiku kosong.

Aku mengingat pertengkaran kita kemarin. Karena itu lah kamu tidak ada di hatiku hari ini. Ingatanku akan pertengkaran kita kemarin mengenyahkanmu dari hatiku. Memori.

Entah berapa kapasitas memori yang aku miliki di otakku. 80 GB? 250 GB? Lebih? Atau bahkan kurang? Aku tidak tahu. Kamu juga punya memori di otakmu. Banyak hal yang kita simpan di memori otak kita masing-masing, hal baik dan hal buruk yang akan membekas dalam hidup kita.

Tapi memori itu sekarang yang mengusirmu dari hatiku. Memori yang itu juga yang menjauhkanku dari hidupmu.

Kesalahan demi kesalahan yang aku lakukan masih tertinggal di memorimu. Karena itu kamu mulai menutup hidupmu untuk aku, sedikit demi sedikit. Beratus-ratus maaf aku ucapkan mengharap pengampunanmu. Tapi memorimu tidak sanggup melepaskan kesalahanku. Dan memoriku tidak mau kalah, dia mulai mengingat semua penolakanmu kepadaku, dan dia tidak akan melepaskan itu.

Seandainya saja memori kita tidak terlalu egois. Seandainya saja memori kita sedikit lebih adil. Maka kita akan mengingat masa kita bahagia, masa kita membagi tawa, masa kita tidak peduli apa yang salah dan apa yang benar karena bagi kita hanya cinta kita yang benar. Seandainya saja memori kita mau berbaik hati sedikit saja. Kamu masih akan duduk di situ, dihatiku. Dan aku masih akan lelap di sana, dihidupmu.