perempuanluarbiasa

Bapak

In hidup saya, realita on October 22, 2009 at 4:29 pm

*Kalo makan jangan lupa bayar, pokoknya harus jujur sekecil apa pun*

Itu pesan bapak buat saya yang sampai hari ini berusaha saya pegang dan jalankan. Tepat sebelum saya berangkat ke Bandung untuk kuliah, kalimat itulah yang saya dengar. Saya cuma cengar-cengir saat diberi petuah itu, saya pikir bapak cuma bercanda, ternyata hari ini, detik ini, saya merasa bahwa kalimat itu susah untuk dijalankan, terbentur dengan realitas yang ada di hadapan saya.

Sejak kecil bapak jarang menguliahi saya dengan petuah-petuahnya. Saya hanya bertemu bapak saat bapak pulang kantor dan pagi-pagi sebelum saya berangkat ke sekolah. Tidak ada obrolan istimewa antara saya dan bapak. Bapak yang saya kenal adalah yang setiap minggu mengajak saya ke toko buku, mengangguk dan kadang menggeleng saat saya menunjukkan buku yang ingin saya beli. Semakin dewasa peran bapak berubah di mata saya. Yang semula menjadi tempat persetujuan untuk membeli buku sekarang menjadi tempat persetujuan untuk banyak hal “Pak, aku main ya?”, “Pak, aku pinjam mobil ya?”, sampai “Pak, ini pacar aku, gimana?”. Bermacam reaksi yang diberikan bapak, bukan hanya mengangguk dan menggeleng saja, kadang ditambahi alasan-alasan kenapa boleh dan kenapa tidak. Kadang saya tertawa, tersenyum, marah, menangis untuk setiap reaksi yang bapak berikan. Tapi bapak tetap bapak saya.

Bapak tidak pernah ribut untuk urusan kuliah dan pendidikan, bapak selalu bilang “bapak tau kamu bisa, kamu kan anak pintar”. Kata-kata itu yang selalu membuat saya merasa aman saat saya kuliah, meskipun saya tidak berada di tengah-tengah keluarga saya. Saya merasa aman, karena saya tau bapak selalu bangga dengan saya. Pada hari pengumuman saya diterima di universitas negeri, bapak dengan bangganya memfotokopi koran pengumuman itu dan menunjukkannya pada semua orang. Sepulang dari kantor bapak membelikan barang-barang yang akan saya butuhkan selama saya hidup di kos-kosan di Bandung. Saya tahu bapak membanggakan saya.

Selama tahun pertama saya kuliah, hampir setiap hari bapak menelpon saya, untuk menanyakan apakah ada yang saya perlukan, kadang hanya bertanya apakah saya sudah makan, karena bapak sedang makan enak sekarang. Bapak yang lucu. Telepon itu pasti berasal dari nomor yang sama, nomor kantor bapak. Telepon itu menjadi rutinitas yang mengasyikkan. Saking telah menjadi rutinitas, saya sampai tidak sadar, bapak tidak pernah menelpon saya dari kantor lagi. Ternyata bapak pensiun. Ibu saya menangis saat bapak pulang membawa barang-barang dari kantornya. Ibu saya menangis bukan karena tidak terima bapak pensiun, tapi ibu sedih karena tahu dan mengerti bapak masih ingin bekerja. Hal ini yang baru saya ketahui 10 hari yang lalu.

Saya tidak terganggu dengan pensiunnya bapak, karena telepon dari bapak masih tetap ada setiap hari untuk saya, meskipun saat ini dari telepon rumah. Sampai akhirnya telepon itu benar-benar berhenti. Terlambat saya sadar akan hal itu. Malam itu saat saya dan teman-teman sedang berputar-putar di daerah Dago, ada telepon yang nyaris membuat saya jatuh pingsan di sebuah factory outlet, “bapak sakit, stroke”. Suara ibu yang dingin menyimpan kesedihannya menyadarkan saya. Saya harus pulang, harus kembali ke Jakarta saat ini juga. Ibu yang cerdik, yang mengenal anaknya dengan baik, tahu betul kapan anaknya panik. Ibu menelepon saya jam 9 malam. Tidak mungkin saya pulang ke Jakarta malam itu, tidak ada lagi jadwal kereta ke Jakarta. Akhirnya malam itu saya hanya bisa menangis dan berdoa untuk Bapak, sampai akhirnya adzan subuh berkumandang.

Saya pulang, pulang untuk menemui bapak yang terbaring di rumah sakit. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan tentang kondisi saat itu. Semuanya bagaikan potongan film yang diputar fast forward. Dengan segala perjuangan, bapak bisa keluar dari rumah sakit. Sakitnya bapak betul-betul merubah pola hidup keluarga saya. Ibu menjadi pendiam, pemarah dan semakin sensitif. Nenek saya semakin menunjukkan urat-urat tuanya melihat anak dan menantunya berjuang menghadapi cobaan. Saya yang tadinya menganggap bahwa hal buruk tidak akan mampir di hidup saya harus berjuang menghadapi kenyataan, “geconfronteerd met de realiteit”.

Saya berjuang menyelesaikan kuliah saya sambil bekerja di sebuah perusahaan asuransi. Sales bukan bidang saya, mati-matian saya mempertahankan pekerjaan saya di perusahaan tersebut. Saya harus bekerja untuk menyelesaikan kuliah saya. Saya bekerja bukan karena keluarga saya tidak mampu lagi membiayai saya, tapi saya yang tidak mau dibiayai. Berat bagi ibu saya untuk menjadi seorang ayah sekaligus, dan saya tidak mau menanyakan ke ibu hal-hal yang dulu biasanya saya tanyakan ke bapak. “Pak beli buku”, “pak bayaran semester ya”, “pak, minta uang foto kopian”, “pak komputer rusak nih, harus servis”. Dan akhirnya saya lulus kuliah meskipun tertatih-tatih. Saya insyinyur! Bapak pasti bangga. Sayang bapak tidak hadir di wisuda saya, hanya namanya saja yang menggaung di aula tempat saya wisuda. Nama bapak menggaung mengikuti nama saya.

Saya keluar dari perusahaan asuransi, bukan bidang saya di situ meskipun gajinya menggiurkan. Akhirnya saya bekerja di kampus bersama dosen saya. Sebagai insinyur geoteknik saya berkutat dengan tanah. Tanah yang akhirnya menghasilkan uang buat saya hidup. Tanah yang kadang menawarkan uang “bersih” dan juga uang “kotor” buat saya.

pokoknya harus jujur sekecil apa pun”.

Iya pak, saya ingat pesan bapak. Akhirnya saya pindah ke perusahaan BUMN, persis seperti bapak dulu memulai karirnya. Saya tersenyum menyadari, ternyata bapak memang idola saya. Setelah bekerja hampir setahun di perusahaan BUMN, saya menyerah. Ternyata budaya kerjanya tidak bisa saya terima. Saya akhirnya pindah ke sebuah non profit organization.

Kekaguman saya terhadap bapak semakin menjadi. Kagum atas kekuatan bapak mempertahankan idealismenya selama bekerja di perusahaan BUMN. Maaf pak, saya menyerah. Tapi saya tidak kalah. Justru saya menang. Menang karena masih mempertahankan nasihat bapak. Pak, saya sadar hidup ini tidak mudah. Hidup ini tidak selalu hitam dan putih. Hidup ini kadang abu-abu dan kita bisa terkecoh. Tapi saya menang pak hari ini, dan saya harus menang lagi besok.

Bapak pun akhirnya menang. Menang atas penyakitnya. Enam tahun beliau lawan penyakitnya dengan tersenyum. Bapak menang sekarang, bapak bisa berisitirahat dengan tenang. Selamat jalan bapak. Saya akan selalu membuat bapak menang.

  1. hadir sis,
    gw pernah denger bahwa seorang anak sebaiknya membacakan 70rb tahlil (lailahaillallah) buat orang tuanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: