perempuanluarbiasa

End of the Circle

In realita on April 29, 2010 at 5:54 pm

*Oh shit!*

Maaf, itu komen saya melihat kejadian semalam.

Di depan sebuah pusat perbelanjaan saya berhenti sebentar di tukang rokok keliling. Dari niat hanya untuk membeli amunisi untuk begadang, malah membuat saya shock. Dari kejauhan terdengar suara seorang anak berteriak marah sambil menangis. Tidak jelas apa yang diteriakan. Kemudian saya lihat seorang anak remaja -kisaran 14-16 tahunan- berdiri sambil didorong-dorong oleh anak kecil -10 tahunan-. Anak kecil itu tampak sangat marah.

Si anak remaja hanya berekpresi datar-datar saja saat didorong dan diteriaki, tapi kemudian sebuah pukulan mendarat di kepala si bocah kecil tersebut. Saya hanya diam, kaget, bingung, sementara niat untuk memisahkan kedua anak tersebut tertutupi oleh rasa takut. Si anak kecil tidak menghentikan teriakannya malah semakin histeris memukuli musuhnya dan juga dibalas oleh si musuh. Akhirnya mereka dipisahkan oleh satu orang yang wajahnya tidak jelas saya lihat karena gelap. Tapi si kecil masih tersulut emosinya, akhirnya dia mengambil batu dan melemparkannya ke arah si anak remaja.  Seorang satpam yang melihat kejadian tersebut langsung menghampiri dan menjambak kepala si anak kecil. Si anak kecil tampak kaget dan berusaha menjelaskan meski terbata-bata diselingi isak tangis dan teriakan marahnya “dia ngerobekin celana saya”.

Selama kejadian itu saya hanya memegang lengan orang di samping saya sambil terbengong-bengong.

Kejadian tersebut membuat saya bertanya-tanya. Kenapa mereka memilih menjadi anak jalanan? Pilihan kah atau sebuah keterpaksaan? Dimana orang tua mereka? Apakah mereka sekolah? Mereka tidur dimana? Orang tua mereka bekerja apa? Apakah miskin? Kalau miskin kenapa punya anak banyak? Kenapa si bocah kecil sangat agresif? Sebegitu keraskah kehidupan di jalanan? dan berpuluh-puluh pertanyaan lanjutan yang kadang jawabannya adalah sebuah pertanyaan lain.

Akhirnya di kepala saya hanya muncul gambaran berikut:

Buat saya, ini seperti lingkaran setan, tidak ada ujung pangkalnya. Karena tidak sekolah maka jadi miskin, karena miskin maka kurang gizi, karena kurang gizi jadi tidak bisa sekolah. Atau urutannya bisa seperti ini, karena miskin tidak mampu bayar sekolah, karena tidak sekolah tidak bisa menjaga kebersihan atau tidak sadar dengan pentingnya keluarga berencana sehingga anaknya makin banyak dan semakin miskin. Atau beberapa skenario suram lainnya bisa kita kembangkan sendiri.

Apa yang salah? Saya bukan hakim yang mau menjudge siapa atau apakah yang salah. Saya juga tidak bilang pemimpin kita bodoh, toh kalau saya yang diangkat menjadi pemimpin juga belum tentu mampu atau lebih pintar. Saya kalau cuma omong saja sih bisa, pembangunan itu harus comprehensive” bla bla bla bla. Tapi ya itu dia, hanya omong, kalau disuruh menjalankan belum tentu bisa.

Akhirnya mungkin yang bisa saya lakukan adalah menjalankan peran saya sebaik-baiknya. Saya punya pendidikan yang cukup. Saya bekerja. Kondisi finansial saya cukup. Saya memiliki modal untuk usaha. Saya akan membuka lapangan pekerjaan, supaya pegawai saya punya cukup uang untuk menyekolahkan anaknya. Anaknya berpendidikan. Anaknya nanti akan bekerja. Memiliki kondisi finansial yang baik. Bisa membuka lapangan kerja untuk orang lain, dan begitu seterusnya menjadi efek berantai.

Mudah-mudahan ini bukan hanya omong saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: